Selasa, 12 Juni 2012

Kisah Sadam Part 1

Halooo Petitulen...
Kali ini om Molen posting tulisan yang diangkat dari kisah nyata. Si Sadam dengan keluguannya, berani menceritakan gado-gado perjalanan cinta monyetnya dulu. Dia enggak tau apa, kalo ceritanya itu bakal terekam di kepalaku, lalu dengan imajinasi yang liar, aku bakalan menghayal yang aneh-aneh tentang dia. Terakhir mau enggak mau, dia harus setuju kalo aku punya rencana menggarap ceritanya ke layar lebar, eh layar komputer maksudnya.  Yah, pasti ceritanya bakal dibumbui adegan-adegan super lebay. Bahasa kerennya, Improvisasi, bahasa pasarannya, ngobrak-ngabrik. Tujuannya sih, biar nuansa komedi ala Molen dapat terasa dilidah (emang sate?). Oke, enggak usah panjang-panjang muqaddimah, langsung aja baca, Kisah Sadam Part 1.
Dam, foto kau yang ini acem bancai la..hahahah
Namaku Sadam. Oh bukan, namaku Baiquni. Tapi kelen jangan panggil aku Baiquni, soalnya nama itu terlalu alim buatku. Panggil aja aku Sadam, atau mungkin, Zunaidi. Ah, apalah arti sebuah nama, kata pak Tarno.
 
Aku mau cerita tentang pengalaman pacaran sama seorang cewek. Sebut saja namanya Bunga, nama panjangnya 'Bunga Dimanakah Kau Berada'. Orangnya cantik (menurutku), baik (menurut ibunya), rajin (menurut bapaknya) dan pelit (menurut temannya yang suka ngutang). Bagiku, dia itu seperti bodrex, bisa nenangin kepala kapan aja. Ngeliat senyumnya aja, pening langsung ilang. Apalagi ngeliat giginya, panukadaskurap bisa ilang (apa hubungannya?).
 
Walaupun aku sayang sama dia, tapi ada hal yang enggak aku suka darinya kala itu. Dia orangnya, suka buat panas. Suka banget kalo buat orang cemburu. Padahal pemirsa tau kan, kalo aku itu paling enggak suka kalo dibuat cemburu. Aku itu, sukanya kalo dibuati bika ambon, atau blackforrest. Udah ah, ngaco.
 
Ceritanya gini, waktu itu guru belum masuk kelas. Biasalah masih pada ngobrol, makan gorengan, ada yang nyuci sepatu, make up-an kalo ceweknya, cari-carian kutu kalo cowoknya dan masih banyak lagi. Aku sediri lagi ngerjain tugas yang belum kelar saat itu.
 
Tiba-tiba, enggak ada bau kentut, enggak ada bau ketek, perasaanku jadi enggak enak gitu. Biasanya, perasaan enggak enak gini muncul kalo tiba-tiba sesak kentut tapi dalam suasana masih belajar. Mau bangkit takut lepas, makanya terpaksa kutarik lagi ke dalam. Secara otomatis kentut tadi naik ke paru-paru sih, katanya bantu-bantu pernapasan gitu.
 
Aku sadar rupanya perasaan enggak enak ini karena si Bunga (cewek aku) lagi lempar-lemparan stipo sama cowok. Sebenarnya sih enggak masalah, cuma aku rada-rada jelous kerena cowok itu mantannya. Mau CLBK ya? Awalnya kubiarin aja. "sekale" batinku. Rupanya, enggak cuma sekali, dua kali bahkan sampai tiga kali!
 
Aku langsung beranjak.
 
"preeeet" bunyi bangku yang bergeser akibat dorongan yang menyentak.
 
Nah, disini aku kasih tau ya. Kalo kita mau merajuk sama cewek, bertindaklah seperti yang aku lakukan. Sedikit membuat gaduh suasana dan ambillah tempat yang cocok untuk menyendiri. Tapi jangan jauh-jauh, soalnya si cewek pasti bakalan ngejar dan narik-narik baju kita sambil bilang, 

"tunggu, tunggu dulu, dengarin dulu penjelasanku," atau, "sayang, dengar dulu, ini enggak seperti yang kamu pikirkan!" nah, dalam keadaan begini, kamu jangan lari ke toilet. Bisa beda bahasanya, 

"sayang, cepat keluar sayang, kita ngomong diluar aja, cuih! anjrit! Bau banget!"
Kita balik lagi. Di luar kelas aku langsung disamperin sama Bunga.
Awalnya kami sama-sama diam. Gengsi donk ngomong duluan.
 
"Cemburu?" Bunga buka duluan.
Aku diam. "Bodo amat ya? Ya jelas aku cemburu!" tapi kata-kata ini cuma dalam hati aja.
 
"Gitu aja cemburu, orang enggak ngapain-ngapain kok."
Bisanya dia bilang enggak ngapain-ngapain, padahal udah jelas mereka lempar-lemparan. Jadi yang lempar-lemparan itu sapa? Jin? Tuyol? Atau SAPA?????
 
Aku geram banget, tapi sebisanya kutahan amarah ini.
 
"Bener, enggak ada ngapa-ngapain, cuma minjam stipo aja tadi.
 
"APANYA ENGGAK NGAPAIN-NGAPAIN, EMANG MUSTI KALI LEMPAR-LEMPARAN GITU! UDAH DILIATIN JUGA ENGGAK NGERTI. JAGA DONK PERASAAN AKU BUNGA!" 

marahku tak terbendung lagi. Kulampiaskan amarahku yang sudah di ubun-ubun ini dengan kata-kata yang cukup kasar. Tapi kawan, semuanya hanya ada di khayalanku saja.
 
"Kok diam aja! Udahlah enggak usah dibesar-besarin masalah yang kayak gini!"
 
Aku diam.
 
"Ngerti kagak???" Bunga marah.
 
"Iya sayang."
 
"Udah masuk kelas sana!"
 
"Iya, Sadam masuk...sekarang sayang?"
 
"Enggak! Tahun depan!"
 
"Iya, iya sayang, Sadam masuk dulu ya."
 
Huft. Begitulah teman. Kalo kita udah sayang sama cewek kita, ya harus rela korban perasaan gini. Mungkin juga akunya yang terlalu cemburu buta. Tapi kan, mungkin dianya juga pengen CLBK sama mantannya. Secara, soal tampang, aku kalah level sama dia. Sampai aku berpikir, kalau aku hanyalah alat cemburuan Bunga sama mantannya. Sial amat nasib aku. Amat aja enggak sesial ini. Tapi tunggu pembalasanku di catatan selanjutnya, Kisah Saddam Part II.
 

Minggu, 10 Juni 2012

Nasi goreng ala mama


Hahahaha, akhirnya punya blog baru. Setelah sekian lama mimpi punya blog, akhirnya kesampaian juga. Cupu banget aku ya. Tapi enggak apa-apalah.

Nah, blog ini dibuat salah satunya agar tulisan-tulisanku yang biasa diposting di facebook kini harus hijrah ke blog. Tentunya bukan hanya tulisan lawas yang sudah dipublikasi yang akan nangkring di blog ini, namun juga tulisan-tulisan terbaru seputar "apa saja" bakal terpajang-pajang di sini.

Untuk mengawalinya, kali ini aku mau cerita tentang "nasi goreng". Yuk lanjut baca aja.

Nasi Goreng Ala Mama

Siapa sih di dunia ini yang enggak senang disukai orang? Pasti senang kan, ketika ada orang yang perhatian dan suka sama kita. Apalagi kalo yang kita suka itu cewek yang kita taksir, udah de, hidupnya udah macam yang paling bahagia aja di muka bumi ini.

Gimana kalau yang suka sama kita adalah sesosok orang tua yang bukan orang tua kita? Pasti senang kan? Apalagi kalo yang suka itu ternyata mertua kita, wah lampu hijau tuh. Tinggal bawa aja orang tua kita ngadap tu mertua,  dua bulan bakal jadi! Percaya deh.

Aku punya ibu yang biasa kupanggil umi. Umi adalah orang tua kandungku. Ia punya sejuta kasih dan sejuta sayang yang selalu ia curahkan selama hidupku. Tak letih ia sapu wajahku dengan tangannya yang lembut sambil menamparku dengan kata-kata nasehat. Kadang kata-katanya menyesakkan dada. Baginya, aku adalah bocah lima belas tahunan yang tak tahu apa-apa tentang cinta. Tak apa, biarlah, mungkin memang benar adanya.

Punya satu umi saja aku sudah bahagia. Apalagi kalau dua. Wah, bertambah-tambahlah bahagianya. Itulah yang terjadi padaku. Sekarang, aku bukan hanya punya umi, tapi juga punya mama. Ia seorang ibu dari dua orang anaknya yang bernama Bulan dan Senja. Sekarang, dua-duanya jadi adik-adikku. Wah, bahagianya.
mama mengenalku dari anaknya yang juga anggotaku di lembaga pers mahasiswa. Lalu, ia mulai mengenal karakterku lewat buku catatan 100 hari yang diberikan anaknya. Tak disangka seorang ibu menyukai tulisanku, padahal kawan-kawan kan tau kalau tulisanku itu konsumennya remaja tanggung yang kebanyakan galau daripada belajar. Enggak tau ngeliat dari sisi mananya sehingga mama begitu menikmati bukuku sampai-sampai kirim salam. Udah macam fans gitu la pokoknya.

Aku ya pasti bersyukur banget karena karyaku enggak hanya bisa dinikmati remaja atau mahasiswa. Karena mama, aku jadi kepikiran jualan buku dari rumah ke rumah sambil bilang, "Ayo ibu-ibu, beli buku catatan 100 hari, khasiatnya dapat menemani  anda disaat suami jarang pulang!" abes tu baru kena lempar kuali plus tabung gas elpiji.wkwkkwk

Nah, sampai akhirnya iseng-iseng minta dibuatin nasi goreng sama mama. Ecek-eceknya mengkek gitu la. Soalnya sama mama orangnya asyik juga lucu-lucuan, persis macam umi la pokoknya. Saking jahilnya, pesannya gak neko-neko. Nasi goreng pake tomcat! Eh bukan denk, pake kroket. Itu lho, makanan mirip risol, cuma agak besar dan tebel. Makan dua aja udah kenyang.

Ini mamanya ^,,^
Besoknya, nasi goreng ala mama datang dibawa sama Bulan. Untunglah enggak tercium sama tim sapu ranjau yang lainnya. Kalo tercium, bisa gawat! Mungkin aku cuma dapat daun pisangnya. Sebagai ketua tim sapu ranjau, hal-hal seperti ini sudah diantisipasi. Ada tempat aman untuk menyantap makanan dengan tenang. Maaf ya tim sapu ranjau.^,,^

Ternyata, aku harus mengacungkan semua jempolku untuk nasi goreng buatan mama. Logat bataknya, "Enak kali bah!". Kecapnya itu meresap kedalam butiran nasi yang tidak terlalu lembek. Warna nasinya pun eksotis, kecoklatan kayak orang bule yang manasin badannya di bawah terik matahari di pantai kuta. Garam beryodium yang tak terlalu asin terasa di sela-sela kunyahan. Terakhir, porsi nasi untuk dua orang pas banget buatku. Kalo aja mama ikut ajang indonesian chef, pasti menang dee.

Makasi ya mama udah dibuatin nasi goreng. Satu lagi ma, makasi juga blackforrestnya.

Lain kali buatin steak ya.hehehe


Sabtu, 09 Juni 2012

Pena & Kertas Putih

Nah, kali ini aku kepengen ngepost cerpen terbaruku. Kisahnya sih fiktif, cuma terinspirasi dari keseharianku sebagai insan jurnalis kampus. Seru loh, jadi ikutin terus ya...
*****
Jgn lp, jm 12
Tmn fklts Eknmi…
Pengirim:
PimRed LPM
+6283197859534

***

Sekedar Suka Atau Jatuh Cinta

Klinik Dokter Molen, kamu bertanya, Molen menjawab.

Aku enggak tau apa yang kurasakan terhadap dia dok. Apa mungkin hanya sekedar rasa suka?
Aku melihat dia setiap hari lewat depan rumahku. Menunggu kedatangannya dengan hati yang risau. Jujur, setiap bertemu dengannya aku jadi salah tingkah. Tapi tak pernah sekalipun kami saling sapa. Bahkan untuk menatapnya pun aku enggak berani. Sampai suatu saat aku dan temanku dapat fb-nya. Saat dia confirm, aku ucapkan terima kasih, terjadilah perkenalan kecil, meski aneh tapi benar-benar membuat aku senang. Aku, dia dan temanku membahas hal-hal yang tidak penting. Awalnya aku merasa pembicaraan kami lewat fb enggak ada hal-hal istimewa yang berkesan di hati. Hingga aku merasa mungkin aku hanya ingin dekat. Tapi saat temanku mengirim pesan khusus ke dia, dan mereka jadi terlihat dekat, aku agak sedikit cemburu. Pengen nangis tapi malu. Akhirnya aku diam dan memikirkan apa yang aku rasakan sekarang. Aku ingin tanya, benarkah aku jatuh cinta? Dan bagaimana aku menyikapi ini semua agar enggak terjadi masalah dalam hubungan aku, dia dan temanku nantinya.

Makasih dokter Molen.


Kamis, 07 Juni 2012

"Berkah Catatan 100 Hari"

 Oleh Molen
Ini cerita tentang hari-hariku dalam bersama buku catatan 100 hari. Ada banyak pengalaman yang kudapatkan gara-gara anak pertamaku ini. Oke, ikuti kisahnya.

Seseorang Memilih Jalan Untuk Hidupnya


Setiap orang punya jalan yang ia pilih. Jalan yang membawanya menuju satu tempat yang ia impikan. Perlu komitmen yang kuat untuk menuju tempat itu, komitmen yang dibagun atas dasar keyakinan.
.........