Oleh Molen
Ini cerita tentang hari-hariku dalam bersama buku catatan 100 hari.
Ada banyak pengalaman yang kudapatkan gara-gara anak pertamaku ini. Oke,
ikuti kisahnya.
Pengalaman di Gramedia
Sekitar seminggu yang lalu aku melipir ke Gramed gajah mada. Misinya tentu saja untuk melihat stock bukuku.
"Aha ada 19 buku!"
Sebenarnya
aku enggak tau berapa buku yang didistribusikan distributor ke setiap
Gramed yang ada di Medan. Modal percaya aja neh! Nah, jadi ceritanya
bukuku itu diletak di rak Novek Terbaru. Ishh..males kali nengok bukuku
enggak ada yang nengok. Alhasil aku diam-diam mindahin bukuku ke rak
Novel terlaris, disamping novelnya Raditya Dika.hahahahaha
Sialnya besoknya kembali lagi ke rak Novel Terbaru. T,,T
Aku
cari strategi lain. Saat beberapa hari yang lalu melipir lagi ke
Gramed, aku kembali mengamati bukuku. Tetep aja enggak ada yang nengok!
Geram kali ngeliatnya la! Ting, tiba-tiba aja ada ide sesat yang
nangkring di kepala.
"Dek, mau tau buku yang bagus gak?" tanyaku
pada dua anak SMA yang sedang baca buku di salah satu rak. Keduanya
bengang-bengong. Mungkin di dalam hati mereka, "sapa ne ya? Kok wajahnya
mirip geng motor?" tapi akhirnya kedua merespon dengan mengikutiku.
"Ini
dia bukunya? Dijamin lucu loh!" kataku sambil berlalu. Kulihat dari
kejauhan dua anak SMA itu megang-megang tuh buku. Dipegang-pegang aja
aku udah senang. Kulihat orang itu senyam-senyum enggak jelas (Soalnya
ngeliatnya dari jauh). Sampai akhirnya kulihat salah satunya membawa
bukuku ke kasir. MANTAP! KUJEDUT KEPALAKU KE RAK BUKU! (hahahaha, aku
enggak senekad ini).
Sorenya, dia sms dan bilang dia suka sama bukunya. Makin senang awak.
Jadi Pemateri di Pesantren Arraudhatulhasanah.
Beberapa
waktu yang lalu aku dan beberapa teman berkesempatan untuk mengisi
materi di pesantren raudhatul hasanah, di jl. Jamin ginting. Aku ngisi
dua materi. Satu, tentang sistem manajemen Lembaga Pers Sekolah. Kedua,
tentang Investigative Reporting. Untuk tema ini, sebenarnya aku kurang
setuju, mengingat investigative bukanlah dasar-dasar jurnalistik, ilmu
lanjutan di bidang jurnalistik. Masalahnya, murid-murid ini kan masih
awam. Nah, kalo disodorin materi ini, enggak cocok banget. Makanya
kemarin aku hanya mengenalkan dasar-dasar jurnalistik tanpa terlalu
dalam mengulas investigative reporting. Nah, yang mau kita bahas adalah
"Ada banyak kesan yang kubawa dari sana."
Selain menjadi
pemateri aku juga menyelipkan promo bukuku di sesi terakhir. Pada sesi
pertama, enggak banyak yang ngerespon. Barulah pada sesi kedua, aku
serasa menjadi artis.
Ini terjadi di kelas putrinya.
Setelah selesai menutup materi, aku langsung diserbu layaknya
cowok-cowok yang d iklan axe itu. Awalnya beberapa malu-malu, tapi lama
kelamaan suasana jadi seru. Beberapa santriwati langsung membeli bukuku,
diikuti dengan teman-temannya yang lain. Selain mengisi tanda tangan,
aku juga harus membuat kata-kata motivasi. Gilanya! Aku hanya ingat
beberapa kata motivasiku yang paling populer. Lainnya? Ilang ntah
kemana.
Kalo cuma tanda tangan sama kata-kata motivasi
doang ya gampang. Cuma masalahnya, semuanya pada minta cepat. Bahkan
bukan buku aja, buku notes pun aku disuruh buat tanda tangan disitu.
"Buat besar-besar bang, dah tu buat namaku sama kata-kata motivasi,"
suruhnya. Aku yang udah kena hipnotis, ya ngikut aja.Aku enggak tau juga
kenapa mereka semua terburu-buru macam dikejar satpol PP. Mungkin
karena udah terlalu sore kali ya sehingga takut kena marah sama petugas
asrama (maybe).
Momen ini sangat berkesan bagiku. Aku seperti artis saja (gpp lah ya menghayal). Sampe-sampe 6 biji c100h ludes dan
malah
ada beberapa orang lagi yang mesan bukuku. Antusiasme anak-anak
pesantren itu kembali memantik api semangatku untuk terus menulis.
Keriuhan meraka memacu semangatku. Yah, aku bertekad akan terus menulis.
Hanya untuk kalian Petitulen sejati.
Famous Friend ala Aplause
Sekitar
sebulan yang lalu temanku di LPM Dinamika mengirimkan profilku pada
salah satu tabloid ternama di Medan. Namanya aplausthelifestyle. Pasti
pada tau lah. Mereka ngusulkan aku masuk pada salah satu rubriknya,
yaitu Famous Friend. Hahahaha, acem terkenal aja awak. Terkenal di
kalangan tukang bengkel mungkin iya. Soalnya sering gonta ganti bengkel
kalo kereta rusak.
Beberapa waktu yang lalu aku dihubungin
sama mbak yul via fesbuk. Dia cuma tanya nomer hape. Beh, tambah
penasaran awak. Barulah beberapa hari setelah itu mbak yul ngubungin aku
lewat nomer kantor (kalo gak salah).
"Ukuran bajunya berapa?
Ukuran celana juga ya? Sepatunya?" aku tekejut-kejut. Sampe-sampe ukuran
celana kubilang ukuran 28. Itu kan ukuran remaja tanggung yang baru aja
puber. Itu saking groginya. Biasalah, namanya juga tekejut.
Sesuai
arahannya pas kemarin telponan, tadi siang aku datang ke rumah Aplaus
untuk menjalani perawatan, enggak denk! Menjalani pemotretan. Sebelumnya
aku diwawancarai dulu sama mbak yul seputar proses penulisan buku
catatan 100 hari. Ya, kusikat aja. Ngemeng sana-ngemeng sini. Akhirnya
siap.
Setelah itu barulah sesi pemotretan. Aku dikasi baju
mirip bajunya Budi Doremi, dengan celana coklat yang super ketat. Jadi
nanti kalo terbit kelen bisa ngeliat ke-sexy-anku lah. Ditambah sepatu
kulit coklat yang cocok banget sama celananya. Setelah di make up ala
kadarnya, akhirnya jadilah MOlen Ganteng (sementara).
Sap-sup-sip,
aku bengkok sana-bengkok sini sesuai arahan fotografer. Ternyata ya,
jadi model itu susah lho. Mimik wajah itu emang harus pas, apalagi kalo
wajahnya pas-pasan macam awak. Kalo acem artis atau model profesional
sih gampang. Mau gaya gimana aja, mau mimik wajahnya ntah macamana,
tetap aja ganteng. Untuk aja fotografernya enggak stress.
Akhirnya
selesailah edisi potret-memotret selesai. Nah, tunggu aja edisi Aplaus 4
minggu ke depan. Kita bisa liat apakah wajah Molen itu sebenarnya mirip
sama Kritik Roshan.
Itulah sekelumit cerita tentang berkah buku catatan 100 hari. Jadi gimana? Pada mau nulis kan?
Salam Formmm
Tidak ada komentar:
Posting Komentar