Kamis, 07 Juni 2012

"Berkah Catatan 100 Hari"

 Oleh Molen
Ini cerita tentang hari-hariku dalam bersama buku catatan 100 hari. Ada banyak pengalaman yang kudapatkan gara-gara anak pertamaku ini. Oke, ikuti kisahnya.



Pengalaman di Gramedia
Sekitar seminggu yang lalu aku melipir ke Gramed gajah mada. Misinya tentu saja untuk melihat stock bukuku.
"Aha ada 19 buku!"

Sebenarnya aku enggak tau berapa buku yang didistribusikan distributor ke setiap Gramed yang ada di Medan. Modal percaya aja neh! Nah, jadi ceritanya bukuku itu diletak di rak Novek Terbaru. Ishh..males kali nengok bukuku enggak ada yang nengok. Alhasil aku diam-diam mindahin bukuku ke rak Novel terlaris, disamping novelnya Raditya Dika.hahahahaha
Sialnya besoknya kembali lagi ke rak Novel Terbaru. T,,T

Aku cari strategi lain. Saat beberapa hari yang lalu melipir lagi ke Gramed, aku kembali mengamati bukuku. Tetep aja enggak ada yang nengok! Geram kali ngeliatnya la! Ting, tiba-tiba aja ada ide sesat yang nangkring di kepala.
"Dek, mau tau buku yang bagus gak?" tanyaku pada dua anak SMA yang sedang baca buku di salah satu rak. Keduanya bengang-bengong. Mungkin di dalam hati mereka, "sapa ne ya? Kok wajahnya mirip geng motor?" tapi akhirnya kedua merespon dengan mengikutiku.

"Ini dia bukunya? Dijamin lucu loh!" kataku sambil berlalu. Kulihat dari kejauhan dua anak SMA itu megang-megang tuh buku. Dipegang-pegang aja aku udah senang. Kulihat orang itu senyam-senyum enggak jelas (Soalnya ngeliatnya dari jauh). Sampai akhirnya kulihat salah satunya membawa bukuku ke kasir. MANTAP! KUJEDUT KEPALAKU KE RAK BUKU! (hahahaha, aku enggak senekad ini).

Sorenya, dia sms dan bilang dia suka sama bukunya. Makin senang awak.

Jadi Pemateri di Pesantren Arraudhatulhasanah.
Beberapa waktu yang lalu aku dan beberapa teman berkesempatan untuk mengisi materi di pesantren raudhatul hasanah, di jl. Jamin ginting. Aku ngisi dua materi. Satu, tentang sistem manajemen Lembaga Pers Sekolah. Kedua, tentang Investigative Reporting. Untuk tema ini, sebenarnya aku kurang setuju, mengingat investigative bukanlah dasar-dasar jurnalistik, ilmu lanjutan di bidang jurnalistik. Masalahnya, murid-murid ini kan masih awam. Nah, kalo disodorin materi ini, enggak cocok banget. Makanya kemarin aku hanya mengenalkan dasar-dasar jurnalistik tanpa terlalu dalam mengulas investigative reporting. Nah, yang mau kita bahas adalah "Ada banyak kesan yang kubawa dari sana."

Selain menjadi pemateri aku juga menyelipkan promo bukuku di sesi terakhir. Pada sesi pertama, enggak banyak yang ngerespon. Barulah pada sesi kedua, aku serasa menjadi artis.

Ini terjadi di kelas putrinya. Setelah selesai menutup materi, aku langsung diserbu layaknya cowok-cowok yang d iklan axe itu. Awalnya beberapa malu-malu, tapi lama kelamaan suasana jadi seru. Beberapa santriwati langsung membeli bukuku, diikuti dengan teman-temannya yang lain. Selain mengisi tanda tangan, aku juga harus membuat kata-kata motivasi. Gilanya! Aku hanya ingat beberapa kata motivasiku yang paling populer. Lainnya? Ilang ntah kemana.

Kalo cuma tanda tangan sama kata-kata motivasi doang ya gampang. Cuma masalahnya, semuanya pada minta cepat. Bahkan bukan buku aja, buku notes pun aku disuruh buat tanda tangan disitu. "Buat besar-besar bang, dah tu buat namaku sama kata-kata motivasi," suruhnya. Aku yang udah kena hipnotis, ya ngikut aja.Aku enggak tau juga kenapa mereka semua terburu-buru macam dikejar satpol PP. Mungkin karena udah terlalu sore kali ya sehingga takut kena marah sama petugas asrama (maybe).

Momen ini sangat berkesan bagiku. Aku seperti artis saja (gpp lah ya menghayal). Sampe-sampe 6 biji c100h ludes dan
malah ada beberapa orang lagi yang mesan bukuku. Antusiasme anak-anak pesantren itu kembali memantik api semangatku untuk terus menulis. Keriuhan meraka memacu semangatku. Yah, aku bertekad akan terus menulis. Hanya untuk kalian Petitulen sejati.

Famous Friend ala Aplause
Sekitar sebulan yang lalu temanku di LPM Dinamika mengirimkan profilku pada salah satu tabloid ternama di Medan. Namanya aplausthelifestyle. Pasti pada tau lah. Mereka ngusulkan aku masuk pada salah satu rubriknya, yaitu Famous Friend. Hahahaha, acem terkenal aja awak. Terkenal di kalangan tukang bengkel mungkin iya. Soalnya sering gonta ganti bengkel kalo kereta rusak.

Beberapa waktu yang lalu aku dihubungin sama mbak yul via fesbuk. Dia cuma tanya nomer hape. Beh, tambah penasaran awak. Barulah beberapa hari setelah itu mbak yul ngubungin aku lewat nomer kantor (kalo gak salah).
"Ukuran bajunya berapa? Ukuran celana juga ya? Sepatunya?" aku tekejut-kejut. Sampe-sampe ukuran celana kubilang ukuran 28. Itu kan ukuran remaja tanggung yang baru aja puber. Itu saking groginya. Biasalah, namanya juga tekejut.
Sesuai arahannya pas kemarin telponan, tadi siang aku datang ke rumah Aplaus untuk menjalani perawatan, enggak denk! Menjalani pemotretan. Sebelumnya aku diwawancarai dulu sama mbak yul seputar proses penulisan buku catatan 100 hari. Ya, kusikat aja. Ngemeng sana-ngemeng sini. Akhirnya siap.

Setelah itu barulah sesi pemotretan. Aku dikasi baju mirip bajunya Budi Doremi, dengan celana coklat yang super ketat. Jadi nanti kalo terbit kelen bisa ngeliat ke-sexy-anku lah. Ditambah sepatu kulit coklat yang cocok banget sama celananya. Setelah di make up ala kadarnya, akhirnya jadilah MOlen Ganteng (sementara).

Sap-sup-sip, aku bengkok sana-bengkok sini sesuai arahan fotografer. Ternyata ya, jadi model itu susah lho. Mimik wajah itu emang harus pas, apalagi kalo wajahnya pas-pasan macam awak. Kalo acem artis atau model profesional sih gampang. Mau gaya gimana aja, mau mimik wajahnya ntah macamana, tetap aja ganteng. Untuk aja fotografernya enggak stress.

Akhirnya selesailah edisi potret-memotret selesai. Nah, tunggu aja edisi Aplaus 4 minggu ke depan. Kita bisa liat apakah wajah Molen itu sebenarnya mirip sama Kritik Roshan.

Itulah sekelumit cerita tentang berkah buku catatan 100 hari. Jadi gimana? Pada mau nulis kan?

Salam Formmm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar