Sabtu, 09 Juni 2012

Pena & Kertas Putih

Nah, kali ini aku kepengen ngepost cerpen terbaruku. Kisahnya sih fiktif, cuma terinspirasi dari keseharianku sebagai insan jurnalis kampus. Seru loh, jadi ikutin terus ya...
*****
Jgn lp, jm 12
Tmn fklts Eknmi…
Pengirim:
PimRed LPM
+6283197859534

***


“Ingat, cewek ini katanya sombong. Jadi kau perlu persiapan khusus. Teknik wawancara saja tidak cukup, perlu mental baja supaya kau tak terlihat seperti anak autis. Jadi, jangan buat LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) menanggung malu.”
Kata-kata itu masih terngiang-ngiang di otakku. Lihat saja, aku tak lagi mendengar ocehan dosen di depan sana. Apa yang kutulis bukanlah resume dari kata-kata sang dosen, tetapi rangkaian poin-poin pertanyaan untuk wawancaraku yang kesekian kali ini. Ya, ini bukan kali pertama aku melakukan wawancara, sudah terlalu sering malah. Sialnya, semua hasil wawancaraku selalu saja tak seperti harapan Pemimpin Redaksi (Pemred). Hari ini aku berharap hasilnya lebih memuaskan.

“Tatap matanya. Tangkap kata-kata yang keluar dari bibirnya dan catat secepat kilat.”

Melewati masa-masa magang memang cukup melelahkan. Aku bisa saja mewawancarai narasumber menggunakan Handphone dengan aplikasi recording. Aku tidak perlu menatap matanya terlalu dalam, mendengar terlalu seksama, dan mencatat ala cakar ayam. Sekali tekan, aku hanya tinggal mendekatkan handphone dan bebas mengobrol. Tapi, ini tak bisa kulakukan sebelum masa magang di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) berakhir sebulan lagi.
***

“Pulpen, Notes, Id-card, dan daftar pertnyaan. Sep.” Aku memastikan instrumen wawancara lengkap. Sedikit berdehem untuk memastikan suaraku tidak cempreng. Kulihat jam menunjukkan pukul 11.45. Terasa bulir-bulir keringat meleleh melewati jambangku. Wawancara di taman fakultas Ekonomi sebenarnya bukan ide bagus. Tidak ada pohon rindang penghalau terik matahari siang. Tapi mau bagaimana lagi, lihat saja di pendopo sana, seorang senior mengamatiku. Ini pasti salah satu ujian mental, pikirku.

Setengah jam kemudian…

“Hai, kamu yang mau mewawancarai saya?” kejut sesosok cewek yang tiba-tiba hadir.
“Eh, iya, iya. Kenalkan, saya Pena…”

“Pena? Lucu amat namanya. Aku tau, pasti nama panjang kamu Pena..mpakan ya? Ups…Sorry, just kidding. Aku Putih.”
“Putih…oh, ya, nama yang indah. Ibu kamu tidak salah memberi nama itu. Bagaimana, bisa kita mulai?”

“Oh, tidak. Justru aku minta maaf, kali ini kayaknya tidak bisa. Aku sudah dijemput, sama itu…”
“Ketua BEM.” bisikku. Tak ada sepatah kata yang mampu kukeluarkan.

“Oke, lain kali kita bisa atur ulang jadwal. Oh, satu lagi; Putih itu nama pemberian ayah, bukan ibu. See you again.”
Oh tidak! Apa yang kulakukan. Aku membiarkan Putih pergi. Pena bodoh! Rasakan akibatnya. Benar saja, sosok yang
tak asing lagi mendekat. Aku benar-benar gugup. Ingin rasanya kukejar Putih, lalu seperti Paparazzi menodongkan Microphone demi beberapa patah kata. Setidaknya notes-ku ada kalimat-kalimat dengan tanda kutip sebagai bukti aku telah berusaha. Sialnya, itu hanya ada dalam khayalanku saja. Sudah kuduga, Redaktur Pelaksana yang sejak tadi mengamati, datang menghampiri.

“Bodoh!”
***

Pena, nama benda yang cukup familiar. Kegunaannya? Anak SD pun tahu. Ya, guna pena adalah untuk menuliskan buah pikiran ke atas secarik kertas atau buku. Bukan itu saja, pena ternyata sahabat tak terpisahkan. Terbukti, dari SD hingga menuliskan surat wasiat, tak ada yang bisa lepas dari pena. Mungkin aku juga tak pernah  ada kalau ayah tidak menulis surat cinta buat ibu ketika kuliah dulu.

Tahu tidak, sebenarnya aku mengalami phobia akut atas namaku sendiri. Nama ini seakan menuntutku untuk pintar menulis. Padahal, aku lebih suka melukis daripada menulis. Pena, juga bukan hanya alat untuk menulis, banyak seniman memakai pena untuk melukis ilustrasi atau karikatur. Tapi ibu tetap saja berkata, “Pena, ibu ingin kau menulis naskah-naskah hidupmu, menuangkan pikiran-pikiran brilian, dan menciptakan karya-karya hingga namamu tercatat di dalam sejarah.. Ingatlah nak, ilmuwan sekalipun harus mengeluarkan buku agar eksistensinya di akui.”

“Hei, melamun saja kau!”
“Oh, Almi…ada apa?”

“Sebaiknya cepat kau siapkan wawancara itu. waktumu dua minggu lagi,  kawan.”

Aku memutar otak. Waktu dua minggu bukan kesempatan panjang buatku. Disamping kuliah lumayan padat, kerjaku mengantar galon air mineral tidak bisa di tinggalkan. Makanya, opsi untuk wawancara sepulang kuliah bukan ide bagus. Baiklah, aku harus mengatur jadwal baru lagi.

Aha, putih mau diwawancarai senin siang di kantin Fakultas Sastra. I don’t want to be late in time.
***
Kantin Fakultas Sastra…

Putih, mahasiswi fakultas sastra penulis Novel ‘Kertas Putih’. Novel ini laris manis di Kota Medan. Terjual 6000 ekslemplar sejak 3 bulan diterbitkan. Angka ini cukup menggembirakan melihat buku bukan hasil cetak dari salah satu penerbit nasional. Dengan bantuan paman yang bekerja di bagian Advertising pada sebuah percetakan, ia sukses menerbitkan sendiri bukunya. Menerbitkan buku tanpa jasa penerbit telah dikenal dengan istilah self publishing. Uang jutaan rupiah dan sikap berani mengambil resiko adalah dua modal utama ketika memutuskan mengambil jalur self publishing.
Untuk distribusinya, ia mengambil langkah inovatif. Sasarannya adalah sekolah dan universitas yang ada di Medan. Melalui kantin dan event bedah buku, ia memasarkan novel ‘Kertas Putih’. Hasilnya, bukan hanya keuntungan secara materi yang ia dapatkan. Kini, novel perdananya dilirik salah satu penerbit nasional untuk dicetak ulang.

“Mungkin ini hanya sebuah kebetulan,” ujar Putih di sela wawancara.
“Kenapa berpikir begitu?” tanyaku heran.

“Novel berisi kisah cinta SMA-ku hanyalah hasil keisengan. Kebetulan saja banyak orang yang menyukainya. Nyatanya, aku tidak suka dengan ceritanya. Memuakkan!” kulihat matanya memerah.

“Maaf, aku belum baca.”
“Baiklah, kapan-kapan kita lanjutkan,” ujar Putih sambil menenteng tas kecilnya dan langsung beranjak pergi,
***

Sejak saat itu, aku rutin berkirim pesan pendek dengan Putih. Ini tentu saja untuk bahan liputanku. “Tulisan profil harus detail. Deskripsinya harus jelas dan menginspirasi.” Aku teringat kata-kata kak Romi—seniorku yang menjabat sebagai

Redaktur Online.
‘Seminggu ini merasa seperti artis. Ada Paparazzi yang ngejer2…’
Malam ini aku enggan memejamkan mata, karena ke-ge-eran membaca statusnya di facebook. Bukan itu saja, Putih juga sering berkomen ria di note-note via facebook yang kubuat setiap hari. Tentu saja rasa senang menghinggapiku. Beberapa kali aku sempat melipir ke rumahnya. Ternyata, ia cukup ramah dan humoris. Soal sombong, aku pernah bertanya, “Kalau ada cowok yang menyebut kamu sombong, apa tanggapan kamu?”

“Itu memang teknik agar aku tidak terlalu cepat cair dengan cowok-cowok yang baru kukenal. Cewek itu harus jaim, supaya lebih dihargai,” ujarnnya. Ini menepis spekulasi Pemred yang menyatakan Putih adalah sosok cewek sombong. Aku lega.

Bukan hanya lega, aku merasakan getaran yang sejak tiga tahun lalu tak pernah kurasakan. Anehnya, aku tak mampu terlelap dengan memeluk Jennifer, bantal guling kesayanganku. Maafkan aku Jennifer, tapi sumpah! Aku tidak selingkuh.

Tiga hari lagi adalah deadline tugas liputanku. Hampir 90% rampung. Hanya ada beberapa hal penting yang harus kutanyakan pada Putih, untuk itu aku memutuskan kerumahnya siang ini. Gembira menyelimuti wajahku karena ini adalah ujung tanduk dari masa magangku. Jika tulisanku kali ini tidak mampu menarik hati Pemred, ah, aku tidak tau lagi harus berbuat apa, sebab aku bakal tidak lulus menjadi kru muda di LPM ini.

Ibu Putih hendak keluar saat aku ingin mengetuk pintu rumahnya. Ia menyarankan aku langsung menuju kamar Putih di lantai atas.

Kulihat pintu hanya tertutup setengah.

“Assalamuaikum...”
Sayangnya tidak ada jawaban. Aku mengulangi salamku hingga tiga kali, namun tetap saja tidak ada respon. Aku tau ini lancang, tapi tak ada pilihan lain. Aku memberanikan diri masuk ke kamarnya. “Berantakan sekali...” bisikku. Terdengar suara rintihan tangis yang tertahan-tahan. “Dari beranda...” tebakku. Betul saja, Putih sedang duduk di salah satu sudut. Tapi...

“Pena, pergilah...saat ini aku tidak mau diganggu...” ujar Putih pelan.
Aku tertegun. Beberapa saat aku terpaku melihatnya. Bibirku kelu untuk memuntahkan kata-kata. Tak ada yang dapat kulakukan selain beranjak dari tempat itu. “Ah, benar-benar bodoh!”
Handphoneku berdering. Dari Pemred.

“Haloo, ya Pemred?”
“Bla,bla,bla,”
“Tapi? Itu tidak ada hubungannya dengan profil dan saat ini dia...”
“Nggak ada tapi-tapian, pokoknya itu harus ada di paragraf terakhir, kalau tidak, good bye
Tuuuuuuut...

Esoknya aku mengirim pesan singkat pada Putih. Tak ada balasan. Aku menunggunya pulang kuliah, namun tetap tak terlihat. Strategi terakhir adalah datang kerumahnya. Sialnya, nyaliku ciut. Mentalku menolak mentah-mentah opsi tersebut. Bisa-bisa aku di usir.

Ntah apa yang ada dipikiranku hingga aku berani mengetik pesan singkat, ‘Putih, apkah bnar kmu tlh ptus dgn ketua BEM?. Aku btuh knfirmsimu. Jjur, ini tntutan dari Pmred.’ Beberapa menit kemudian ada pesan masuk. ‘Aku tnggu di parkiran’. Aha, dari Putih. Aku bergegas. Hampir saja aku lupa membayar makan siang.

Suasana lengang. Tak ada seorangpun di parkiran. Aku memantau sekeliling, namun tetap saja wajah Putih belum terlihat. Lihat, beberapa orang sepertinya berjalan ke arahku. “Dia kan Dika, ketua BEM?”

“Anjrit!”

Aku tersentak ketika kepalan tangannya menghantam perutku. Aku terjatuh.
“Heh, wartawan tempe! Aku dengar kau menulis profil Putih ya??”

Aku mengangguk. Akhh..perutku sakit sekali. Aku hampir kehilangan nafas.
“So, jelaskan maksud pesanmu ini. Kau ingin mempublikasikan bahwa kami telah putus ya?”

Hah, ia memegang handphone Putih. Aku kembali mengangguk. Itu kulakukan karena memang benar adanya. Pemred menyuruhku menuliskannya di paragraf terakhir tulisan profilku.

“Bagus! Makan ini!”
Satu hantaman lagi mendarat di pipiku. Kali ini aku benar-benar tumbang.
***
Suasana Rapat...

“Kau tak usah khawatir. Kita akan melakukan upaya advokasi. Kita akan tulis seorang Ketua BEM yang seharusnya melindungi mahasiswa, tapi berprilaku seperti preman dengan menganiaya seorang wartawan kampus. Ini jelas-jelas melecehkan kebebasan pers. Kita akan muat dia di majalah kita, tepat di halaman utama. Dengan begitu, ia akan merasakan malu yang tiada tara. Aku rasa itu cukup pantas dengan apa yang ia lakukan padamu. Bagaimana Pena?”
Aku tidak habis pikir kenapa cara ini yang diambil. Aku berdiri dan mengajukan satu pertanyaan, “Coba jawab, saat kita berada di posisi Dika, apa yang akan kita lakukan?”

Semua diam. Termasuk Pemred.

“Ayo jawab!” teriakku. Saking kesalnya, aku tak mampu menahan luapan amarah. Aku tahu ini hanya akan membunuh karirku di LPM ini. Tapi aku masih ingat apa yang dikatakan kak Romi, “Jurnalisme itu harus mampu menyajikan berita yang penting. Itu membedakannya dengan infotainmet yang cenderung menyajikan berita yang tak penting.”
“Oke, karena tak ada yang bisa menjawab, aku memutuskan keluar dari LPM ini!”
***

‘Salm. Ini Putih. Pulang kuliah bisa ktmu di taman fklts ekonmi? Aku tnggu ya.’
Aku tidak yakin mata ini mampu mengungkap kebenaran. Telinga, mulut, bahkan pikiran kurasa takkan mampu. Kita hanya mampu berlaku benar walaupun upaya mengungkap kebenaran kita lakukan sesuai teori. Hanya butuh berlaku benar dalam mengungkap kebenaran dan hasilnya? Tak usah kau khawatirkan.

“Sendiri?” seseorang menghampiriku.
“Ya. Silahkan.”
“Aku minta maaf atas sikap Dika. Apa lukanya serius...” Putih memegang sudut bibirku.
“Ah, tidak apa-apa. Hanya luka ringan.”
“Oh iya, bagaimana dengan profilku? Aku siap untuk diwawancarai. Hari ini terakhir kan...”

Darahku berdesir. Pikiranku dibuat merangkak-rangkak. Ah, jujur saja. “Hem, eh...hem...aku sudah keluar...” kataku sambil menundukkan kepala.

Putih tersenyum. “Kadang kita menyerah hanya karena tersandung krikil. Aku pernah bilang kalau aku tidak suka dengan cerita yang kubuat sendiri. Buatku cerita itu memuakkan! Sebab memuat kesedihanku. Terakhir aku sadar, dibalik itu semua, ternyata aku mampu bekarya dengan kesedihanku. Hahaha, it’s funny. Kau tau, nyatanya hidup ini mirip dengan sinetron.”

Kutatap matanya. Aku ingin tenggelam lebih jauh lagi.
“Aku ingin kau menerima novel ini. Selamat tinggal!”
“Eh..Hei!” aku gagal tenggelam.

Putih langsung beranjak meninggalkanku. Terakhir, kulihat ia memalingkan wajahnya kepadaku dan tersenyum. Manis, sungguh sangat manis.

Di dalam Novel itu terselip selembar amplop. Di halaman awal tertulis beberapa bait kalimat.

Aku sengaja memesan sebuah halaman kosong di lembar ini sebelum novel ini dicetak.
Aku ingin setiap orang menuliskan perasaannya di halaman ini. Perasaan gembira maupun sedih.
Kini, aku harus menuliskan perasaanku. Perasaan hati untuk seseorang yang baru kukenal.
Aku sangat senang mengenalnya. Ia punya keberanian untuk mengatakan kebenaran. Buatku itu sudah cukup untuk membuktikan ia lelaki yang tangguh. Walau, awalnya ia sangat gugup bertemu denganku.
Kertas Putih, tak lagi putih. Seseorang telah menggoreskan Pena-nya.

*Pemred udah cerita semuanya. Amplop itu adalah surat keputusan bahwa kamu ‘Lulus’ magang dan berhak menjadi kru muda di LPM. Congratulation.

Aku hanya mampu tersenyum. “Dasar Putih...”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar